Pelatihan militer mencakup berbagai aspek, mulai dari penggunaan senjata, taktik tempur, hingga yang paling mendasar: kemampuan bertarung tanpa senjata. Menguasai kombat jarak dekat adalah keterampilan yang sangat vital bagi setiap prajurit. Dalam situasi di mana senjata tidak dapat digunakan, baik karena alasan taktis atau kehabisan amunisi, kemampuan untuk bertarung dengan tangan kosong menjadi penentu keberhasilan misi dan keselamatan prajurit. Pelatihan ini tidak hanya membangun kekuatan fisik, tetapi juga ketahanan mental, karena menuntut prajurit untuk tetap tenang dan efektif di bawah tekanan ekstrem.
Pelatihan kombat jarak dekat bagi prajurit TNI mencakup berbagai teknik bela diri, yang diadaptasi untuk skenario pertempuran. Fokusnya bukan pada gerakan yang rumit atau estetika, melainkan pada efektivitas dan kecepatan. Setiap gerakan harus memiliki tujuan yang jelas: untuk melumpuhkan lawan dengan cepat dan aman. Latihan ini mencakup berbagai teknik kuncian, pukulan, tendangan, dan menjatuhkan lawan. Tujuannya adalah untuk menguasai situasi dengan cepat, baik dalam serangan maupun pertahanan.
Salah satu prinsip utama dari kombat jarak dekat adalah memanfaatkan kelemahan lawan. Prajurit dilatih untuk mengidentifikasi dan menyerang titik-titik sensitif pada tubuh lawan. Selain itu, mereka juga diajarkan untuk menggunakan lingkungan sekitar sebagai keuntungan. Misalnya, menggunakan dinding untuk menjebak lawan atau menggunakan barang-barang di sekitar sebagai senjata darurat. Latihan ini mensimulasikan kondisi yang tidak terduga di lapangan, di mana improvisasi adalah kunci.
Pada 14 Agustus 2025, Komandan Resimen Induk Kodam (Rindam) III/Siliwangi, Letkol Inf. (Infanteri) Bagus Pratama, dalam sebuah acara, menyatakan bahwa “Kemampuan bertarung tanpa senjata adalah fondasi yang tidak bisa ditawar. Ini adalah keterampilan bertahan hidup yang wajib dikuasai oleh setiap prajurit.” Pernyataan ini menegaskan bahwa latihan bela diri militer adalah hal yang sangat esensial.
Sebuah laporan dari Pusat Penelitian Militer pada 20 September 2025, yang tercatat dalam dokumen No. 789/PPM/IX/2025, menunjukkan bahwa prajurit yang memiliki pelatihan kombat jarak dekat yang memadai memiliki tingkat kepercayaan diri yang lebih tinggi dan pengambilan keputusan yang lebih baik di bawah tekanan ekstrem.
Secara keseluruhan, kombat jarak dekat adalah bagian tak terpisahkan dari pelatihan militer yang komprehensif. Ini adalah kombinasi dari kekuatan fisik, kecerdasan taktis, dan ketahanan mental. Dengan menguasai keterampilan ini, seorang prajurit tidak hanya menjadi lebih efektif di medan tempur, tetapi juga lebih tangguh dan siap menghadapi setiap tantangan yang mungkin terjadi.
